PESAN RAMAH LINGKUNGAN
Sesungguhnya sang dukun (datu) telah mengajarkan keseimbangan LH kepada ponakannya Baluhap (mewakili generasi penerus), dimana harus ada balance atau take and give dalam kehidupan manusia dengan bumi /alam habitatnya. Apalah artinya sepotong dahan pohon, dibandingkan dengan sebuah kotak tembakau --walaupun kotak itu hanya terbuat dari bahan kaleng misalnya, apalagi terbuat dari aluminum ?! Namun yang penting adalah nilai pendidikannya itu, bahwa kita harus belajar mengucapkan terimakasih, bukan hanya dengan ucapan basa-basi.
Tindakan sang Datu hanyalah simbolisasi dari Daur Ulang dalam porsi yang lebih besar, misalnya memupuk padi dengan kotoran ternak yang telah difermentasi lebih dulu (kompos). Termasuk juga pemberian bahan organik itu kekolam-ikan ,dls.
Namun entah kenapa, kerifan lokal itu kini telah hilang tergerus oleh entah apa/siapa. Akibatnya, lingkunganpun jadi rusak dan kini tiada lagi tersisa hari tanpa banjir, longsor dan kebakaran. Sepertinya hukuman synthese antara hukuman api belerang (Sodom & Gomorrah) dengan hukuman air-bah Nuh telah melanda negeri ini.
Anjuran take and give atau keseimbangan debet-kredit ini bukanlah monopoli orang Batak, tetapi bersifat universal. Persembahan, korban, dsb itu adalah manifestasi dari take and give itu. Bahkan Mbah Marijan dapat dianggap sebagai ‘korban- bakaran’ atas segala rezeki yang diberikan oleh gunung Merapi (nutrient tanaman, pasir, koral,dsb) kepada warga dilereng gunung berapi yang selalu aktip itu.2]
Langganan:
Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar