DAUR ULANG
Kini petani tak lagi ramah lingkungan, tak lagi hormat kepada Sang Bumi danPenciptanya. 6 ton padi dipanen per Ha per musim, hanya dibalas dengan 10karung urea yang tak ramah lingkungan, bukan diimbangi dengan sampah pasarorganik yang mengganggu di pemukiman dan pasar.
Mestinya bahan organik yang keluar dari sawah itu diimbangi dengan memasukkan bahan organik, tak usah sampai berton-ton per tahun, cukuplah ratusan kg, termasuk tidak membakar jerami. Sebab walaupun dengan membakar jerami tak ada yang keluar kesamping (horisontal seperti padi yang dipanen), tetapi keatas (vertikal) ada juga yang hilang menguap yaitu unsur nitrogen yang justru sangat dibutuhkan oleh tanaman itu. Sekecil apapun, setiap bahan organik selalu mengandung unsur nitrogen. Nah, disinilah kontroversilnya bangsa kita, disatu pihak membeli urea yang unsurnya adalah nitrogen – tetapi membuang-buang zat lemas itu setiap habis panen.3]
Maka lengkaplah horisontal-vertikal pengeluaran unsur dan bahan dari areal-pertanian, tanpa diimbangi dengan pemasukan bahan organik (daur-ulang).
Saatnya kita kembali ke kebijakan nenek-moyang secara historis spiralistik(Daur Ulang Sejarah), termasuk mendaur-ulang bahan organik bahkan apa saja dalam kehidupan kita sehari-hari.4]
Sesungguhnya kehidupan dan ketidak-hidupan adalah fenomena DU, maka marilah kita menyuarakan motto “Tiada hari tanpa DU”. Martimbang !
Langganan:
Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar